BLOG INI MENAMPILKAN MATERI PERKULIAHAN YANG PERNAH DIAMPU OLEH BAPAK HENDRATA WIBISANA KHUSUSNYA REKAYASA JALAN RAYA, TRANSPORTASI DAN MATEMATIKA REKAYASA DI JURUSAN TEKNIK SIPIL UPN VETERAN JATIM SURABAYA
Tampilkan postingan dengan label jalur sutra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalur sutra. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Maret 2011
Rabu, 23 Maret 2011
tugas rekayasa jalan raya I
Tugas Rekayasa Jalan Raya I Nama : Rendi Pratama NPM : 0953010027 Jalan Sutra dan Peninggalannya yang IndahJalan Sutra adalah jalur jalan terpanjang yang membentang diantara dua benua, menghubungkan Tiongkok dan dunia barat, yang zaman dulu dipakai sebagai rute perdagangan melalui darat. Sejak lama, Tiongkok dikenal sebagai penghasil kain sutra yang hasilnya diekspor ke barat, terutama melalui jalan ini, makanya disebut "jalan sutra" (the silk road), sepanjang jalan yang melalui banyak negara ini, terbentanglah peninggalan budaya dan sejarah yang sangat bernilai untuk dinikmati, sambil membayangkan businessman jaman dulu mengangkut sutra dan komoditi barang dagangan lainnya melewati 7.000 mil jalan di jalur sutera ini menuju Eropa. Jalan Sutra adalah yang jalur paling terkenal sebagai rute perdagangan dari peradaban Tiongkok kuno. Perdagangan sutra tumbuh di bawah Dinasti Han (202 SM - AD 220) pada abad pertama dan kedua Masehi. Awalnya, sutra dihasilkan Tiongkok kuno untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, di dalam kekaisaran. Setelah produksi menjadi banyak, mereka mulai menjualnya ke arah Barat, mengangkutnya menggunakan kereta kuda dan unta saat melewati gurun. Dalam perjalanan, mereka sering diserang oleh suku-suku kecil di Asia Tengah yang ingin merampas komoditi berharga yang dibawa pedagang. Akibatnya, Dinasti Han memperluas pertahanan militernya lebih jauh ke Asia Tengah 135-90 SM dalam rangka untuk melindungi para pedagang. Pemerintah Han mengirim Jenderal Zhangqian (Chan Ch'ien) sebagai seorang utusan untuk membangun hubungan yang baik dengan suku-suku ini, kemudian muncul ide untuk memperluas perdagangan sutra, memasukkan suku-suku kecil ini sebagai bagian didalamnya, membentuk aliansi dengan mereka. Karena ide ini, Jalan Sutra lahir. Rute tumbuh dengan munculnya Kekaisaran Romawi karena pada awalnya memberikan sutra Tiongkok pada pemerintahan Asia-Romawi sebagai hadiah. Rute 7.000 mil yang membentang Tiongkok, Asia Tengah, India Utara, dan Kekaisaran Parthia dan Romawi. Ia menghubungkan Lembah Sungai Kuning dengan Laut Tengah dan melewati tempat-tempat di Tiongkok seperti kota Gansu dan Sinkiang dan saat ini negara Iran, Irak dan Suriah. Penduduk India barat laut yang tinggal di dekat Sungai Gangga memainkan peran penting sebagai perantara dalam perdagangan sutra Tiongkok-Mediterania karena pada awal abad ketiga Masehi, mereka mengerti bahwa sutra adalah produk yang menguntungkan dari KekaisaranTiongkok. Hubungan perdagangan antara Tiongkok dan India tumbuh lebih kuat dengan peningkatan ekspansi Han ke Asia Tengah. Tiongkok juga melakukan perdagangan sutra mereka dengan orang-orang India seperti batu mulia dan logam seperti batu giok, emas, dan perak, dan India juga menjual sutra kepada kekaisaran Roma. Sutra adalah barang impor yang sangat bernilai dan mahal harganya untuk Kekaisaran Romawi sejak perdagangan di India dan Asia Tengah yang sangat dikendalikan oleh Kekaisaran Parthia. Peninggalan Sepanjang Jalan Sutera di Tiongkok : Prajurit Terakota di Xi'an Prajurit terakota ditemukan di daerah Tong, 30 km dari Xi'an pada bulan Maret 1947, terletak di dekat makam Kaisar Qin Shihuang (210-209 BC). Prajurit patung ini dibuat dengan tujuan untuk membantu Kaisar Qin di masa kehidupan selanjutnya (oleh karenanya disebut "Prajurit Qin"). Material patung terakota ini berasal dari Gunung Lishan. Menurut sejarah, konstruksi ini mulai dibangun pada 246 BC dan melibatkan 700.000 pematung. Kaisar Qin secara khusus memerintahkan agar wajah patung-patung ini tidak boleh ada yang sama. Menara lonceng di Xi'an Menara ini adalah lambang kota Xi'an. Ada legenda yang menyelimuti menara lonceng ini. Pada dinasti Ming, ribuan orang tewas karena gempa bumi di Shaanxi. Orang-orang mengatakan ada naga raksasa yang muncul di tengah kota itu dan menimbulkan gempa tersebut. Saat mendengar mengenai hal ini, raja menyuruh pandai besi membuat rantai sepanjang 300 meter untuk mengikat naga tersebut di tengah kota. Dia juga memerintahkan 5.000 tukang yang terampil untuk membangun menara disekeliling tempat naga itu terikat, untuk memenjarakan naga itu ke dalam tanah sehingga tidak menimbulkan gempa lagi selamanya. Kuil Kuda Putih di Luoyang Kuil Kuda Putih terletak 12 km dari kota Luoyang, merupakan salah satu kuil tertua di Tiongkok yang cantik dan megah. Menurut legenda, pada tahun 68 AD, saat agama Buddha semakin surut di India, dua Bhikku India datang ke Luoyang menunggang kuda putih, membawa kitab suci Buddha dari india datang ke tempat ini. Para penganut Buddhis di tempat ini mendirikan kuil ini untuk mereka dan memperdalam ajaran Buddha bersama kedua Bhikku tersebut. Dalam sejarah juga tercatat bahwa tempat ini digunakan oleh Kaisar kedua Han, Lui Zhuang, untuk menuntut ilmu. Dahulu lebih dari 1000 bhikku tinggal di tempat ini. Kuil ini juga merupakan makam dari dua Bhikku India membawa kitab suci tersebut. Mogao Grotto di Dunhuang Mogao Grotto disebut juga Gua Seribu Buddha, di masa jalan sutera dikenal sebagai "mutiara yang berkilau di jalur sutera", merupakan tempat persinggahan yang sangat terkenal. Gua ini dipahat dari karang batu pasir Gunung Mingsha, yang terbentang sepanjang 1600m dari selatan ke utara. Dibangun pada abad ke-14, lukisan mural sepanjang 4500 meter persegi dan lebih dari 2000 patung berwarna adalah merupakan salah satu warisan sejarah kebudayaan Buddhis yang masih tersisa di dunia. Gua pertama kali dipahat pada tahun 366 AD. Idenya berasal dari Bhikku Yue Zun yang bermimpi keberadaan 1000 Buddha emas saat ia pulang ke rumah melewati wilayah ini, dan dia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya menjadi nyata. Lebih dair 1000 tahun kemudian, 16 dinasti jatuh dan berdiri, namun pekerjaan maha akbar ini terus dilanjutkan, melibatkan seniman lintas generasi. Yang menakjubkan, konstuksi yang selesai dibangun pada zaman Dinasti yuan sampai sekarang masih tegak berdiri, tahan terhadap erosi alam dan perang. Masih ada 492 gua yang masih berdiri dan lebih dari 2000 patung dan 45.000 mural masih ada disana. |
tugas rekayasa jalan raya 1, minggu ke-1
TUGAS MINNGU KE-1,
REKAYASA JALAN RAYA 1
NAMA : BAYU YURISIANTO
NPM : 0953010001
Jalan Sutra adalah salah satu jalur penting bagi penyebarluasan peradaban
zaman kuno Tiongkok ke Barat, sekaligus jembatan yang menghubungkan
pertukaran ekonomi dan kebudayaan Tiongkok-Barat.
Jalan Sutra yang lazim disebut orang adalah jalur darat dari Chang'an, ibukota
Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka
oleh seorang jenderal bernama Zhang Qian. Di samping jalur utama, Jalan Sutra
itu mempunyai dua anak jalur yang masing-masing terletak di bagian utara dan
selatan. Di antaranya, jalur selatan bertolak dari Dunhuang, Propinsi Gansu
Tiongkok Barat Laut terus menuju ke barat menyusuri jalan di kaki Pegunungan
Kunlun terus sampai ke Xinjiang, Tiongkok Barat Laut dan bagian timur laut
Afghanistan, Iran dan Semenanjung Arab sebelum mencapai Roma, Italia.
Sedangkan Jalan Sutra sektor utara dimulai dari Benteng Yumen, Dunhuang
terus ke barat menyusuri jalan di kaki selatan Gunung Tianshan. Setelah
melewati Gunung Chongling, Jalan Sutra Utara itu memasuki wilayah Rusia
di bagian Asia Tengah, kemudian jalan itu membelok ke barat daya untuk
bergabung dengan Jalan Sutra sektor selatan. Kedau jalur Jalan Sutra itu
disebut sebagai "Jalan Sutra Darat".
Selain itu masih ada dua jalan sutra yang jarang diketahui orang. Salah satu di
antaranya ialah "Jalan Sutra Barat Daya" yang bertolak dari Propinsi Sichuan,
Tiongkok Baratdaya terus ke Propinsi Yunnan dan mencapai bagian utara
Myanmar setelah menyeberang sebuah sungai, kemudian jalan sutra itu menuju
bagian timur laut India sebelum memasuki bagian barat laut India dengan
menyusuri Sungai Gangga India sebelum tiba di Dataran Tinggi Iran. Jalan Sutra
itu bersejarah lebih lama daripada Jalan Sutra Darat. Tahun 1986, para arkeolog
menemukan petilasan Sanxingdui yang misterius di Guanghan, Propinsi
Sichuan. Di petilasan yang sejarahnya dapat dilacak sampai tiga ribu tahun
yang lalu, ditemukan sekelompok benda budaya yang berhubungan dengan
kebudayaan Asia Barat dan Yunani. Di antaranya terdapat sebuah tongkat emas
yang panjangnya 142 sentimer, sebatang "pohon dewa" dengan ketinggian 4
meter dan patung manusia tembaga, kepala tembaga dan maskot tembaga.
Para ahli berpendapat bahwa benda-benda budaya itu mungkin memasuki
Tiongkok dalam pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Apabila
pandangan itu benar, maka jalan sutra itu dapat dikatakan sudah terbentuk jauh
pada tiga ribu tahun yang lalu.
Selain jalan-jalan sutra di darat itu, masih terdapat satu lagi jalan sutra di atas
laut, yaitu dari Guangzhou, Tiongkok Selatan ke Selat Malaka, dan terus sampai
ke Sri Lanka, India dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai
Jalan Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika
Timur, dapat diketahui bahwa Jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa
Dinasti Song Tiongkok.
"Jalan Sutra Laut" menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama
peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong
maju pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra
Laut juga dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat. Menurut catatan
sejarah, Marco Polo dari Italia justru berkunjung ke Tiongkok dari Jalan Sutra
Laut. Dalam perjalannya kembali ke Italia dengan naik kapal, ia pun bertolak dari
Quanzhou, Propinsi Fujian Tiongkok Tenggara dengan menyusuri jalan tersebut.
Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar
Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM.
Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara
pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari
masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah
utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan
perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan
ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun,
sera tsutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.
Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat
dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih,
di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada
Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap
musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra.
Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan.
Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong
sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra
menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai
instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis.
Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa
Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang
dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima
gaji dan hadiah sutra.
Perdagangan Sutra
Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga
antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi
pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja,
Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita
berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan
data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan 'amino-acid
racemization', mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa
Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE,
March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir
pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.
Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres,
Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus
Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya
silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat
Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka
silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu
dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian
Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke
berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus
Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga
sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300
denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan
bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi
Romawi.
Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan
Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan
Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak
penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang
paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan,
kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang,
sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang
yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan
suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.
Perdagangan Jalan Sutra
Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi
barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina
dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis),
jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat.
Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan
cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-
rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang
harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa
Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima
ratussyikal".
Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut
sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga
barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang
dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa
kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang
digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa
Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes'iah (Maz45.9), menjadi kata
Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa
para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM
dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah
manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai
sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian
yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi
Diocletian.
Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga
dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki
tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja,
yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang
produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa
Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi
adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan
berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di
Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang
ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.
Peta Jalan Sutra
REKAYASA JALAN RAYA 1
NAMA : BAYU YURISIANTO
NPM : 0953010001
Sejarah Jalan Sutra
Jalan Sutra adalah salah satu jalur penting bagi penyebarluasan peradaban
zaman kuno Tiongkok ke Barat, sekaligus jembatan yang menghubungkan
pertukaran ekonomi dan kebudayaan Tiongkok-Barat.
Jalan Sutra yang lazim disebut orang adalah jalur darat dari Chang'an, ibukota
Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka
oleh seorang jenderal bernama Zhang Qian. Di samping jalur utama, Jalan Sutra
itu mempunyai dua anak jalur yang masing-masing terletak di bagian utara dan
selatan. Di antaranya, jalur selatan bertolak dari Dunhuang, Propinsi Gansu
Tiongkok Barat Laut terus menuju ke barat menyusuri jalan di kaki Pegunungan
Kunlun terus sampai ke Xinjiang, Tiongkok Barat Laut dan bagian timur laut
Afghanistan, Iran dan Semenanjung Arab sebelum mencapai Roma, Italia.
Sedangkan Jalan Sutra sektor utara dimulai dari Benteng Yumen, Dunhuang
terus ke barat menyusuri jalan di kaki selatan Gunung Tianshan. Setelah
melewati Gunung Chongling, Jalan Sutra Utara itu memasuki wilayah Rusia
di bagian Asia Tengah, kemudian jalan itu membelok ke barat daya untuk
bergabung dengan Jalan Sutra sektor selatan. Kedau jalur Jalan Sutra itu
disebut sebagai "Jalan Sutra Darat".
Selain itu masih ada dua jalan sutra yang jarang diketahui orang. Salah satu di
antaranya ialah "Jalan Sutra Barat Daya" yang bertolak dari Propinsi Sichuan,
Tiongkok Baratdaya terus ke Propinsi Yunnan dan mencapai bagian utara
Myanmar setelah menyeberang sebuah sungai, kemudian jalan sutra itu menuju
bagian timur laut India sebelum memasuki bagian barat laut India dengan
menyusuri Sungai Gangga India sebelum tiba di Dataran Tinggi Iran. Jalan Sutra
itu bersejarah lebih lama daripada Jalan Sutra Darat. Tahun 1986, para arkeolog
menemukan petilasan Sanxingdui yang misterius di Guanghan, Propinsi
Sichuan. Di petilasan yang sejarahnya dapat dilacak sampai tiga ribu tahun
yang lalu, ditemukan sekelompok benda budaya yang berhubungan dengan
kebudayaan Asia Barat dan Yunani. Di antaranya terdapat sebuah tongkat emas
yang panjangnya 142 sentimer, sebatang "pohon dewa" dengan ketinggian 4
meter dan patung manusia tembaga, kepala tembaga dan maskot tembaga.
Para ahli berpendapat bahwa benda-benda budaya itu mungkin memasuki
Tiongkok dalam pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Apabila
pandangan itu benar, maka jalan sutra itu dapat dikatakan sudah terbentuk jauh
pada tiga ribu tahun yang lalu.
Selain jalan-jalan sutra di darat itu, masih terdapat satu lagi jalan sutra di atas
laut, yaitu dari Guangzhou, Tiongkok Selatan ke Selat Malaka, dan terus sampai
ke Sri Lanka, India dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai
Jalan Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika
Timur, dapat diketahui bahwa Jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa
Dinasti Song Tiongkok.
"Jalan Sutra Laut" menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama
peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong
maju pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra
Laut juga dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat. Menurut catatan
sejarah, Marco Polo dari Italia justru berkunjung ke Tiongkok dari Jalan Sutra
Laut. Dalam perjalannya kembali ke Italia dengan naik kapal, ia pun bertolak dari
Quanzhou, Propinsi Fujian Tiongkok Tenggara dengan menyusuri jalan tersebut.
Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar
Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM.
Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara
pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari
masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah
utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan
perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan
ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun,
sera tsutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.
Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat
dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih,
di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada
Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap
musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra.
Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan.
Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong
sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra
menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai
instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis.
Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa
Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang
dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima
gaji dan hadiah sutra.
Perdagangan Sutra
Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga
antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi
pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja,
Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita
berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan
data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan 'amino-acid
racemization', mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa
Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE,
March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir
pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.
Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres,
Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus
Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya
silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat
Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka
silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu
dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian
Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke
berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus
Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga
sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300
denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan
bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi
Romawi.
Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan
Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan
Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak
penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang
paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan,
kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang,
sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang
yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan
suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.
Perdagangan Jalan Sutra
Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi
barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina
dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis),
jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat.
Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan
cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-
rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang
harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa
Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima
ratussyikal".
Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut
sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga
barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang
dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa
kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang
digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa
Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes'iah (Maz45.9), menjadi kata
Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa
para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM
dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah
manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai
sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian
yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi
Diocletian.
Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga
dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki
tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja,
yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang
produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa
Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi
adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan
berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di
Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang
ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.
Peta Jalan Sutra
Selasa, 22 Maret 2011
Rekayasa Jalan Raya tugas 1
TUGAS JALUR SUTRA
NAMA: CHOLIQ AUFAR NUGRAHA
NPM : 0953010009
Jalur Sutra adalah nama yang diberikan seorang Jerman bernama von Richthofen pada Abad-18M, untuk jalur darat yang menghubungkan Cina dengan Eropa. Sekalipun baru dibuka resmi pada Abad-3SM, di masa Dinasti Han yang mulai mengirim utusan ke berbagai negara Asia Selatan dan Timur Tengah, namun Jalur Sutra sudah ada jauh sebelumnya. Jalur Sutra terdiri dari banyak jalur yang bercabang-cabang, dan digunakan untuk perdagangan berbagai komoditi selain sutra seperti gading, tanaman, emas. Secara garis besar terdapat tiga jalur, di utara, tengah dan selatan.
Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati, melalui Urumqi dan Lembah Fergana. Jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrrannia, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia. Jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Di Cina, Jalur Sutra berujung di Changan atau Xian, ibukota kerajaan, ke arah barat melewati koridor Gansu, menuju Dun-huang di sisi Gurun Taklimakan. Jalur utara mulai dari Dun-huang dan Yu-men Guan, menyeberangi Gurun Gobi menuju Hami (Kumul), lalu menyisir kaki Tian-shan di bagian utara Taklimakan. Setelah oasis Turfan, menuju Urumqi dan Lembah Fergana untuk masuk Eropa hingga Laut Mati. Jalur ini bercabang di Turfan, ke oasis Kucha, menuju Kashgar di kaki Pamirs.
Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati, melalui Urumqi dan Lembah Fergana. Jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrrannia, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia. Jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Di Cina, Jalur Sutra berujung di Changan atau Xian, ibukota kerajaan, ke arah barat melewati koridor Gansu, menuju Dun-huang di sisi Gurun Taklimakan. Jalur utara mulai dari Dun-huang dan Yu-men Guan, menyeberangi Gurun Gobi menuju Hami (Kumul), lalu menyisir kaki Tian-shan di bagian utara Taklimakan. Setelah oasis Turfan, menuju Urumqi dan Lembah Fergana untuk masuk Eropa hingga Laut Mati. Jalur ini bercabang di Turfan, ke oasis Kucha, menuju Kashgar di kaki Pamirs.
Jalur selatan mulai Dun-huang, melewati Yang Guan, menyusuri sisi selatan Taklimakan, melalui Miran, Hetian (Khotan) dan Shache (Yarkand), menuju utara lalu menuju Kashgar. Masih ada beberapa cabang jalur, salah satunya bercabang dari jalur selatan menuju sisi timur Gurun Taklimakan ke kota Loulan, lalu bergabung dengan jalur utara di Korla. Dari Kashgar yang simpang lalulintas Asia, ada jalur menyeberangi Pamirs menuju Samarkand dan menuju selatan ke Laut Kaspia; atau jalur ke selatan melewati Karakorum menuju India; dan sebuah jalur lain menuju Kuqa, menyeberangi Tian-shan, menuju Laut Kaspia melalui Tashkent
Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM. Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun, serat sutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.
Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih, di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra. Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan. Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis. Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima gaji dan hadiah sutra.
Perdagangan Sutra
Perdagangan Sutra
Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja, Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan 'amino-acid racemization', mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE, March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.
Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres, Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300 denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi Romawi.
Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan, kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang, sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.
Perdagangan Jalur Sutra
Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres, Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300 denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi Romawi.
Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan, kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang, sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.
Perdagangan Jalur Sutra
Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis), jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat. Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima ratus syikal".
Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes'iah (Maz45.9), menjadi kata Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi Diocletian.
Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja, yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.
Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja, yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.
TUGAS REKAYASA JALAN RAYA 1, MINGGU KE-1
TUGAS MINGGU KE-1,
REKAYASA JALAN RAYA 1
DONNY PRATAMA
0953010050
REKAYASA JALAN RAYA 1
DONNY PRATAMA
0953010050

PENGERTIAN JALUR SUTRA
Jalan Sutra adalah jalur jalan terpanjang yang membentang diantara dua benua,
menghubungkan Tiongkok dan dunia barat, yang zaman dulu dipakai sebagairute perdagangan melalui darat. Sejak lama, Tiongkok dikenal sebagai penghasil
kain sutra yang hasilnya diekspor ke barat, terutama melalui jalan ini, makanya
disebut "jalan sutra" (the silk road), sepanjang jalan yang melalui banyak negara ini,
terbentanglah peninggalan budaya dan sejarah yang sangat bernilai untuk dinikmati,
sambil membayangkan businessman jaman dulu mengangkut sutra dan komoditi
barang dagangan lainnya melewati 7.000 mil jalan di jalur sutera ini menuju Eropa.
Jalan Sutra adalah yang jalur paling terkenal sebagai rute perdagangan dari
peradaban Tiongkok kuno. Perdagangan sutra tumbuh di bawah Dinasti Han
(202 SM – AD 220) pada abad pertama dan kedua Masehi. Awalnya, sutra
dihasilkan Tiongkok kuno untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, di dalam
kekaisaran. Setelah produksi menjadi banyak, mereka mulai menjualnya ke arah
Barat, mengangkutnya menggunakan kereta kuda dan unta saat melewati gurun.
Dalam perjalanan, mereka sering diserang oleh suku-suku kecil di Asia Tengah
yang ingin merampas komoditi berharga yang dibawa pedagang. Akibatnya,
Dinasti Han memperluas pertahanan militernya lebih jauh ke Asia Tengah 135-
90 SM dalam rangka untuk melindungi para pedagang. Pemerintah Han mengirim
Jenderal Zhangqian (Chan Ch'ien) sebagai seorang utusan untuk membangun
hubungan yang baik dengan suku-suku ini, kemudian muncul ide untuk memperluas
perdagangan sutra, memasukkan suku-suku kecil ini sebagai bagian didalamnya,
membentuk aliansi dengan mereka. Karena ide ini, Jalan Sutra lahir. Rute tumbuh
dengan munculnya Kekaisaran Romawi karena pada awalnya memberikan sutra
Tiongkok pada pemerintahan Asia-Romawi sebagai hadiah.
Rute Jalur Sutra
Rute 7.000 mil yang membentang Tiongkok, Asia Tengah, India Utara, dan
Kekaisaran Parthia dan Romawi. Ia menghubungkan Lembah Sungai Kuning
dengan Laut Tengah dan melewati tempat-tempat di Tiongkok seperti kota Gansu
dan Sinkiang dan saat ini negara Iran, Irak dan Suriah.
Penduduk India barat laut yang tinggal di dekat Sungai Gangga memainkan peran
penting sebagai perantara dalam perdagangan sutra Tiongkok-Mediterania karena
pada awal abad ketiga Masehi, mereka mengerti bahwa sutra adalah produk yang
menguntungkan dari KekaisaranTiongkok. Hubungan perdagangan antara Tiongkok
dan India tumbuh lebih kuat dengan peningkatan ekspansi Han ke Asia Tengah.
Tiongkok juga melakukan perdagangan sutra mereka dengan orang-orang India
seperti batu mulia dan logam seperti batu giok, emas, dan perak, dan India juga
menjual sutra kepada kekaisaran Roma. Sutra adalah barang impor yang sangat
bernilai dan mahal harganya untuk Kekaisaran Romawi sejak perdagangan di India
dan Asia Tengah yang sangat dikendalikan oleh Kekaisaran Parthia.
Peninggalan Sepanjang Jalan Sutera di Tiongkok :
Prajurit Terakota di Xi'an
Prajurit terakota ditemukan di daerah Tong, 30 km dari Xi'an pada bulan Maret
1947, terletak di dekat makam Kaisar Qin Shihuang (210-209 BC). Prajurit patung ini
dibuat dengan tujuan untuk membantu Kaisar Qin di masa kehidupan selanjutnya
(oleh karenanya disebut "Prajurit Qin"). Material patung terakota ini berasal dari
Gunung Lishan. Menurut sejarah, konstruksi ini mulai dibangun pada 246 BC dan
melibatkan 700.000 pematung. Kaisar Qin secara khusus memerintahkan agar
wajah patung-patung ini tidak boleh ada yang sama.
Menara lonceng di Xi'an
Menara ini adalah lambang kota Xi'an. Ada legenda yang menyelimuti menara
lonceng ini. Pada dinasti Ming, ribuan orang tewas karena gempa bumi di Shaanxi.
Orang-orang mengatakan ada naga raksasa yang muncul di tengah kota itu dan
menimbulkan gempa tersebut. Saat mendengar mengenai hal ini, raja menyuruh
pandai besi membuat rantai sepanjang 300 meter untuk mengikat naga tersebut di
tengah kota. Dia juga memerintahkan 5.000 tukang yang terampil untuk membangun
menara disekeliling tempat naga itu terikat, untuk memenjarakan naga itu ke dalam
tanah sehingga tidak menimbulkan gempa lagi selamanya.
Kuil Kuda Putih di Luoyang
Kuil Kuda Putih terletak 12 km dari kota Luoyang, merupakan salah satu kuil
tertua di Tiongkok yang cantik dan megah. Menurut legenda, pada tahun 68 AD,
saat agama Buddha semakin surut di India, dua Bhikku India datang ke Luoyang
menunggang kuda putih, membawa kitab suci Buddha dari india datang ke tempat
ini. Para penganut Buddhis di tempat ini mendirikan kuil ini untuk mereka dan
memperdalam ajaran Buddha bersama kedua Bhikku tersebut. Dalam sejarah juga
tercatat bahwa tempat ini digunakan oleh Kaisar kedua Han, Lui Zhuang, untuk
menuntut ilmu. Dahulu lebih dari 1000 bhikku tinggal di tempat ini. Kuil ini juga
merupakan makam dari dua Bhikku India membawa kitab suci tersebut.
Mogao Grotto di Dunhuang
Mogao Grotto disebut juga Gua Seribu Buddha, di masa jalan sutera dikenal
sebagai "mutiara yang berkilau di jalur sutera", merupakan tempat persinggahan
yang sangat terkenal. Gua ini dipahat dari karang batu pasir Gunung Mingsha, yang
terbentang sepanjang 1600m dari selatan ke utara. Dibangun pada abad ke-14,
lukisan mural sepanjang 4500 meter persegi dan lebih dari 2000 patung berwarna
adalah merupakan salah satu warisan sejarah kebudayaan Buddhis yang masih
tersisa di dunia. Gua pertama kali dipahat pada tahun 366 AD. Idenya berasal dari
Bhikku Yue Zun yang bermimpi keberadaan 1000 Buddha emas saat ia pulang ke
rumah melewati wilayah ini, dan dia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya
menjadi nyata. Lebih dair 1000 tahun kemudian, 16 dinasti jatuh dan berdiri, namun
pekerjaan maha akbar ini terus dilanjutkan, melibatkan seniman lintas generasi.
Yang menakjubkan, konstuksi yang selesai dibangun pada zaman Dinasti yuan
sampai sekarang masih tegak berdiri, tahan terhadap erosi alam dan perang. Masih
ada 492 gua yang masih berdiri dan lebih dari 2000 patung dan 45.000 mural masih
ada disana.
Tugas Rekayasa Jalan Raya 1
| NAMA : DWI ANGGARA RIZKY SAPUTRA NPM : 0753010058 JALUR SUTRA Jalur Sutra (Hanzi tradisional: 絲綢之路; Hanzi yang Disederhanakan: 丝绸之路; pinyin: sī chóu zhī lù, bahasa Persia راه ابریشم Râh-e Abrisham) adalah sebuah jalur perdagangan melalui Asia Selatan yang dilalui oleh karavan dan kapal laut, dan menghubungkan Chang'an, Republik Rakyat Cina, dengan Antiokhia, Suriah, dan juga tempat lainnya. Pengaruhnya terbawa sampai ke Korea dan Jepang. Pertukaran ini sangat penting tak hanya untuk pengembangan kebudayaan Cina, India dan Roma namun juga merupakan dasar dari dunia modern. Istilah 'jalur sutra' pertama kali digunakan oleh geografer Jerman Ferdinand von Richthofen pada abad ke-19 karena komoditas perdagangan dari Cina yang banyak berupa sutra.Jalur Sutra benua membagi menjadi jalur utara dan selatan begitu dia meluas dari pusat perdagangan Cina Utara dan Cina Selatan, rute utara melewati Bulgar-Kypchak ke Eropa Timur dan Semenanjung Crimea, dan dari sana menuju ke Laut Hitam, Laut Marmara, dan Balkan ke Venezia; rute selatan melewati Turkestan-Khorasan menuju Mesopotamia dan Anatolia, dan kemudian ke Antiokia di Selatan Anatolia menuju ke Laut Tengah atau melalui Levant ke Mesir dan Afrika Utara. Hubungan jalan rel yang hilang dalam Jalur Sutra diselesaikan pada 1992, ketika jalan rel internasional Almaty - Urumqi dibuka. Jalan Sutra adalah jalur jalan terpanjang yang membentang diantara dua benua, menghubungkan Tiongkok dan dunia barat, yang zaman dulu dipakai sebagai rute perdagangan melalui darat. Sejak lama, Tiongkok dikenal sebagai penghasil kain sutra yang hasilnya diekspor ke barat, terutama melalui jalan ini, makanya disebut "jalan sutra" (the silk road), sepanjang jalan yang melalui banyak negara ini, terbentanglah peninggalan budaya dan sejarah yang sangat bernilai untuk dinikmati, sambil membayangkanbusinessman jaman dulu mengangkut sutra dan komoditi barang dagangan lainnya melewati 7.000 mil jalan di jalur sutera ini menuju Eropa. Sejarah & Budaya Jalan Sutera Jalan Sutra adalah yang jalur paling terkenal sebagai rute perdagangan dari peradaban Tiongkok kuno. Perdagangan sutra tumbuh di bawah Dinasti Han (202 SM - AD 220) pada abad pertama dan kedua Masehi. Awalnya, sutra dihasilkan Tiongkok kuno untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, di dalam kekaisaran. Setelah produksi menjadi banyak, mereka mulai menjualnya ke arah Barat, mengangkutnya menggunakan kereta kuda dan unta saat melewati gurun. Dalam perjalanan, mereka sering diserang oleh suku-suku kecil di Asia Tengah yang ingin merampas komoditi berharga yang dibawa pedagang. Akibatnya, Dinasti Han memperluas pertahanan militernya lebih jauh ke Asia Tengah 135-90 SM dalam rangka untuk melindungi para pedagang. Pemerintah Han mengirim Jenderal Zhangqian (Chan Ch'ien) sebagai seorang utusan untuk membangun hubungan yang baik dengan suku-suku ini, kemudian muncul ide untuk memperluas perdagangan sutra, memasukkan suku-suku kecil ini sebagai bagian didalamnya, membentuk aliansi dengan mereka. Karena ide ini, Jalan Sutra lahir. Rute tumbuh dengan munculnya Kekaisaran Romawi karena pada awalnya memberikan sutra Tiongkok pada pemerintahan Asia-Romawi sebagai hadiah. Melewati Dua Benua Rute 7.000 mil yang membentang Tiongkok, Asia Tengah, India Utara, dan Kekaisaran Parthia dan Romawi. Ia menghubungkan Lembah Sungai Kuning dengan Laut Tengah dan melewati tempat-tempat di Tiongkok seperti kota Gansu dan Sinkiang dan saat ini negara Iran, Irak dan Suriah. Penduduk India barat laut yang tinggal di dekat Sungai Gangga memainkan peran penting sebagai perantara dalam perdagangan sutra Tiongkok-Mediterania karena pada awal abad ketiga Masehi, mereka mengerti bahwa sutra adalah produk yang menguntungkan dari KekaisaranTiongkok. Hubungan perdagangan antara Tiongkok dan India tumbuh lebih kuat dengan peningkatan ekspansi Han ke Asia Tengah. Tiongkok juga melakukan perdagangan sutra mereka dengan orang-orang India seperti batu mulia dan logam seperti batu giok, emas, dan perak, dan India juga menjual sutra kepada kekaisaran Roma. Sutra adalah barang impor yang sangat bernilai dan mahal harganya untuk Kekaisaran Romawi sejak perdagangan di India dan Asia Tengah yang sangat dikendalikan oleh Kekaisaran Parthia. Peninggalan Sepanjang Jalan Sutera di Tiongkok Prajurit Terakota di Xi'an Menurut sejarah, konstruksi ini mulai dibangun pada 246 BC dan melibatkan 700.000 pematung. Kaisar Qin secara khusus memerintahkan agar wajah patung-patung ini tidak boleh ada yang sama. Menara lonceng di Xi'an Dia juga memerintahkan 5.000 tukang yang terampil untuk membangun menara disekeliling tempat naga itu terikat, untuk memenjarakan naga itu ke dalam tanah sehingga tidak menimbulkan gempa lagi selamanya. Kuil Kuda Putih di Luoyang Kuil Kuda Putih terletak 12 km dari kota Luoyang, merupakan salah satu kuil tertua di Tiongkok yang cantik dan megah. Menurut legenda, pada tahun 68 AD, saat agama Buddha semakin surut di India, dua Bhikku India datang ke Luoyang menunggang kuda putih, membawa kitab suci Buddha dari india datang ke tempat ini. Para penganut Buddhis di tempat ini mendirikan kuil ini untuk mereka dan memperdalam ajaran Buddha bersama kedua Bhikku tersebut. Dalam sejarah juga tercatat bahwa tempat ini digunakan oleh Kaisar kedua Han, Lui Zhuang, untuk menuntut ilmu. Dahulu lebih dari 1000 bhikku tinggal di tempat ini. Kuil ini juga merupakan makam dari dua Bhikku India membawa kitab suci tersebut. Mogao Grotto di Dunhuang Mogao Grotto disebut juga Gua Seribu Buddha, di masa jalan sutera dikenal sebagai "mutiara yang berkilau di jalur sutera", merupakan tempat persinggahan yang sangat terkenal. Gua ini dipahat dari karang batu pasir Gunung Mingsha, yang terbentang sepanjang 1600m dari selatan ke utara. Dibangun pada abad ke-14, lukisan mural sepanjang 4500 meter persegi dan lebih dari 2000 patung berwarna adalah merupakan salah satu warisan sejarah kebudayaan Buddhis yang masih tersisa di dunia. Gua pertama kali dipahat pada tahun 366 AD. Idenya berasal dari Bhikku Yue Zun yang bermimpi keberadaan 1000 Buddha emas saat ia pulang ke rumah melewati wilayah ini, dan dia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya menjadi nyata. Lebih dair 1000 tahun kemudian, 16 dinasti jatuh dan berdiri, namun pekerjaan maha akbar ini terus dilanjutkan, melibatkan seniman lintas generasi. Yang menakjubkan, konstuksi yang selesai dibangun pada zaman Dinasti yuan sampai sekarang masih tegak berdiri, tahan terhadap erosi alam dan perang. Masih ada 492 gua yang masih berdiri dan lebih dari 2000 patung dan 45.000 mural masih ada disana. thanks, ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
TUGAS REKAYASA JALAN RAYA 1, MINGGU KE-1
Senin, 21 Maret 2011
Tugas Rekayasa Jalan Raya 1
Langganan:
Postingan (Atom)









