Tampilkan postingan dengan label jalur sutra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalur sutra. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Maret 2011

tugas RJR


Eko yanuar a
Npm:0653010040

Jalur Sutra adalah nama yang diberikan seorang Jerman bernama von Richthofen pada Abad-18M, untuk jalur darat yang menghubungkan Cina dengan Eropa. Sekalipun baru dibuka resmi pada Abad-3SM, di masa Dinasti Han yang mulai mengirim utusan ke berbagai negara Asia Selatan dan Timur Tengah, namun Jalur Sutra sudah ada jauh sebelumnya. Jalur Sutra terdiri dari banyak jalur yang bercabang-cabang, dan digunakan untuk perdagangan berbagai komoditi selain sutra seperti gading, tanaman, emas. Secara garis besar terdapat tiga jalur, di utara, tengah dan selatan.
Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati, melalui Urumqi dan Lembah Fergana. Jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrrannia, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia. Jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Di Cina, Jalur Sutra berujung di Changan atau Xian, ibukota kerajaan, ke arah barat melewati koridor Gansu, menuju Dun-huang di sisi Gurun Taklimakan. Jalur utara mulai dari Dun-huang dan Yu-men Guan, menyeberangi Gurun Gobi menuju Hami (Kumul), lalu menyisir kaki Tian-shan di bagian utara Taklimakan. Setelah oasis Turfan, menuju Urumqi dan Lembah Fergana untuk masuk Eropa hingga Laut Mati. Jalur ini bercabang di Turfan, ke oasis Kucha, menuju Kashgar di kaki Pamirs.

Jalur selatan mulai Dun-huang, melewati Yang Guan, menyusuri sisi selatan Taklimakan, melalui Miran, Hetian (Khotan) dan Shache (Yarkand), menuju utara lalu menuju Kashgar. Masih ada beberapa cabang jalur, salah satunya bercabang dari jalur selatan menuju sisi timur Gurun Taklimakan ke kota Loulan, lalu bergabung dengan jalur utara di Korla. Dari Kashgar yang simpang lalulintas Asia, ada jalur menyeberangi Pamirs menuju Samarkand dan menuju selatan ke Laut Kaspia; atau jalur ke selatan melewati Karakorum menuju India; dan sebuah jalur lain menuju Kuqa, menyeberangi Tian-shan, menuju Laut Kaspia melalui Tashkent

Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM. Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun, serat sutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.

Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih, di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra. Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan. Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis. Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima gaji dan hadiah sutra.

Perdagangan Sutra
Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja, Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan 'amino-acid racemization', mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE, March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.

Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres, Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300 denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi Romawi.

Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan, kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang, sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.

Perdagangan Jalur Sutra
Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis), jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat. Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima ratus syikal".

Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes'iah (Maz45.9), menjadi kata Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi Diocletian.

Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja, yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.


Rabu, 23 Maret 2011

tugas rekayasa jalan raya I

Tugas Rekayasa Jalan Raya I
Nama : Rendi Pratama
NPM : 0953010027


Jalan Sutra dan Peninggalannya yang Indah


Jalan Sutra adalah jalur jalan terpanjang yang membentang diantara dua benua, menghubungkan Tiongkok dan dunia barat, yang zaman dulu dipakai sebagai rute perdagangan melalui darat. Sejak lama, Tiongkok dikenal sebagai penghasil kain sutra yang hasilnya diekspor ke barat, terutama melalui jalan ini, makanya disebut "jalan sutra" (the silk road), sepanjang jalan yang melalui banyak negara ini, terbentanglah peninggalan budaya dan sejarah yang sangat bernilai untuk dinikmati, sambil membayangkan businessman jaman dulu mengangkut sutra dan komoditi barang dagangan lainnya melewati 7.000 mil jalan di jalur sutera ini menuju Eropa.

Jalan Sutra adalah yang jalur paling terkenal sebagai rute perdagangan dari peradaban Tiongkok kuno. Perdagangan sutra tumbuh di bawah Dinasti Han (202 SM - AD 220) pada abad pertama dan kedua Masehi. Awalnya, sutra dihasilkan Tiongkok kuno untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, di dalam kekaisaran. Setelah produksi menjadi banyak, mereka mulai menjualnya ke arah Barat, mengangkutnya menggunakan kereta kuda dan unta saat melewati gurun. Dalam perjalanan, mereka sering diserang oleh suku-suku kecil di Asia Tengah yang ingin merampas komoditi berharga yang dibawa pedagang. Akibatnya, Dinasti Han memperluas pertahanan militernya lebih jauh ke Asia Tengah 135-90 SM dalam rangka untuk melindungi para pedagang. Pemerintah Han mengirim Jenderal Zhangqian (Chan Ch'ien) sebagai seorang utusan untuk membangun hubungan yang baik dengan suku-suku ini, kemudian muncul ide untuk memperluas perdagangan sutra, memasukkan suku-suku kecil ini sebagai bagian didalamnya, membentuk aliansi dengan mereka. Karena ide ini, Jalan Sutra lahir. Rute tumbuh dengan munculnya Kekaisaran Romawi karena pada awalnya memberikan sutra Tiongkok pada pemerintahan Asia-Romawi sebagai hadiah.


Rute 7.000 mil yang membentang Tiongkok, Asia Tengah, India Utara, dan Kekaisaran Parthia dan Romawi. Ia menghubungkan Lembah Sungai Kuning dengan Laut Tengah dan melewati tempat-tempat di Tiongkok seperti kota Gansu dan Sinkiang dan saat ini negara Iran, Irak dan Suriah.


Penduduk India barat laut yang tinggal di dekat Sungai Gangga memainkan peran penting sebagai perantara dalam perdagangan sutra Tiongkok-Mediterania karena pada awal abad ketiga Masehi, mereka mengerti bahwa sutra adalah produk yang menguntungkan dari KekaisaranTiongkok. Hubungan perdagangan antara Tiongkok dan India tumbuh lebih kuat dengan peningkatan ekspansi Han ke Asia Tengah. Tiongkok juga melakukan perdagangan sutra mereka dengan orang-orang India seperti batu mulia dan logam seperti batu giok, emas, dan perak, dan India juga menjual sutra kepada kekaisaran Roma. Sutra adalah barang impor yang sangat bernilai dan mahal harganya untuk Kekaisaran Romawi sejak perdagangan di India dan Asia Tengah yang sangat dikendalikan oleh Kekaisaran Parthia.


Peninggalan Sepanjang Jalan Sutera di Tiongkok :
Prajurit Terakota di Xi'an


Prajurit terakota ditemukan di daerah Tong, 30 km dari Xi'an pada bulan Maret 1947, terletak di dekat makam Kaisar Qin Shihuang (210-209 BC). Prajurit patung ini dibuat dengan tujuan untuk membantu Kaisar Qin di masa kehidupan selanjutnya (oleh karenanya disebut "Prajurit Qin"). Material patung terakota ini berasal dari Gunung Lishan. Menurut sejarah, konstruksi ini mulai dibangun pada 246 BC dan melibatkan 700.000 pematung. Kaisar Qin secara khusus memerintahkan agar wajah patung-patung ini tidak boleh ada yang sama.

Menara lonceng di Xi'an

Menara ini adalah lambang kota Xi'an. Ada legenda yang menyelimuti menara lonceng ini. Pada dinasti Ming, ribuan orang tewas karena gempa bumi di Shaanxi. Orang-orang mengatakan ada naga raksasa yang muncul di tengah kota itu dan menimbulkan gempa tersebut. Saat mendengar mengenai hal ini, raja menyuruh pandai besi membuat rantai sepanjang 300 meter untuk mengikat naga tersebut di tengah kota. Dia juga memerintahkan 5.000 tukang yang terampil untuk membangun menara disekeliling tempat naga itu terikat, untuk memenjarakan naga itu ke dalam tanah sehingga tidak menimbulkan gempa lagi selamanya.

Kuil Kuda Putih di Luoyang

Kuil Kuda Putih terletak 12 km dari kota Luoyang, merupakan salah satu kuil tertua di Tiongkok yang cantik dan megah. Menurut legenda, pada tahun 68 AD, saat agama Buddha semakin surut di India, dua Bhikku India datang ke Luoyang menunggang kuda putih, membawa kitab suci Buddha dari india datang ke tempat ini. Para penganut Buddhis di tempat ini mendirikan kuil ini untuk mereka dan memperdalam ajaran Buddha bersama kedua Bhikku tersebut. Dalam sejarah juga tercatat bahwa tempat ini digunakan oleh Kaisar kedua Han, Lui Zhuang, untuk menuntut ilmu. Dahulu lebih dari 1000 bhikku tinggal di tempat ini. Kuil ini juga merupakan makam dari dua Bhikku India membawa kitab suci tersebut.

Mogao Grotto di Dunhuang

Mogao Grotto disebut juga Gua Seribu Buddha, di masa jalan sutera dikenal sebagai "mutiara yang berkilau di jalur sutera", merupakan tempat persinggahan yang sangat terkenal. Gua ini dipahat dari karang batu pasir Gunung Mingsha, yang terbentang sepanjang 1600m dari selatan ke utara. Dibangun pada abad ke-14, lukisan mural sepanjang 4500 meter persegi dan lebih dari 2000 patung berwarna adalah merupakan salah satu warisan sejarah kebudayaan Buddhis yang masih tersisa di dunia. Gua pertama kali dipahat pada tahun 366 AD. Idenya berasal dari Bhikku Yue Zun yang bermimpi keberadaan 1000 Buddha emas saat ia pulang ke rumah melewati wilayah ini, dan dia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya menjadi nyata. Lebih dair 1000 tahun kemudian, 16 dinasti jatuh dan berdiri, namun pekerjaan maha akbar ini terus dilanjutkan, melibatkan seniman lintas generasi. Yang menakjubkan, konstuksi yang selesai dibangun pada zaman Dinasti yuan sampai sekarang masih tegak berdiri, tahan terhadap erosi alam dan perang. Masih ada 492 gua yang masih berdiri dan lebih dari 2000 patung dan 45.000 mural masih ada disana.



tugas rekayasa jalan raya 1, minggu ke-1

TUGAS MINNGU KE-1,
REKAYASA JALAN RAYA 1

NAMA : BAYU YURISIANTO
NPM : 0953010001



Sejarah Jalan Sutra


Jalan Sutra adalah salah satu jalur penting bagi penyebarluasan peradaban
zaman kuno Tiongkok ke Barat, sekaligus jembatan yang menghubungkan
pertukaran ekonomi dan kebudayaan Tiongkok-Barat.

Jalan Sutra yang lazim disebut orang adalah jalur darat dari Chang'an, ibukota
Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka
oleh seorang jenderal bernama Zhang Qian. Di samping jalur utama, Jalan Sutra
itu mempunyai dua anak jalur yang masing-masing terletak di bagian utara dan
selatan. Di antaranya, jalur selatan bertolak dari Dunhuang, Propinsi Gansu
Tiongkok Barat Laut terus menuju ke barat menyusuri jalan di kaki Pegunungan
Kunlun terus sampai ke Xinjiang, Tiongkok Barat Laut dan bagian timur laut
Afghanistan, Iran dan Semenanjung Arab sebelum mencapai Roma, Italia.
Sedangkan Jalan Sutra sektor utara dimulai dari Benteng Yumen, Dunhuang
terus ke barat menyusuri jalan di kaki selatan Gunung Tianshan. Setelah
melewati Gunung Chongling, Jalan Sutra Utara itu memasuki wilayah Rusia
di bagian Asia Tengah, kemudian jalan itu membelok ke barat daya untuk
bergabung dengan Jalan Sutra sektor selatan. Kedau jalur Jalan Sutra itu
disebut sebagai "Jalan Sutra Darat".

Selain itu masih ada dua jalan sutra yang jarang diketahui orang. Salah satu di
antaranya ialah "Jalan Sutra Barat Daya" yang bertolak dari Propinsi Sichuan,
Tiongkok Baratdaya terus ke Propinsi Yunnan dan mencapai bagian utara
Myanmar setelah menyeberang sebuah sungai, kemudian jalan sutra itu menuju
bagian timur laut India sebelum memasuki bagian barat laut India dengan
menyusuri Sungai Gangga India sebelum tiba di Dataran Tinggi Iran. Jalan Sutra
itu bersejarah lebih lama daripada Jalan Sutra Darat. Tahun 1986, para arkeolog
menemukan petilasan Sanxingdui yang misterius di Guanghan, Propinsi
Sichuan. Di petilasan yang sejarahnya dapat dilacak sampai tiga ribu tahun
yang lalu, ditemukan sekelompok benda budaya yang berhubungan dengan
kebudayaan Asia Barat dan Yunani. Di antaranya terdapat sebuah tongkat emas
yang panjangnya 142 sentimer, sebatang "pohon dewa" dengan ketinggian 4
meter dan patung manusia tembaga, kepala tembaga dan maskot tembaga.
Para ahli berpendapat bahwa benda-benda budaya itu mungkin memasuki
Tiongkok dalam pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Apabila
pandangan itu benar, maka jalan sutra itu dapat dikatakan sudah terbentuk jauh
pada tiga ribu tahun yang lalu.

Selain jalan-jalan sutra di darat itu, masih terdapat satu lagi jalan sutra di atas
laut, yaitu dari Guangzhou, Tiongkok Selatan ke Selat Malaka, dan terus sampai
ke Sri Lanka, India dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai
Jalan Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika
Timur, dapat diketahui bahwa Jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa
Dinasti Song Tiongkok.

"Jalan Sutra Laut" menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama
peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong
maju pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra
Laut juga dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat. Menurut catatan
sejarah, Marco Polo dari Italia justru berkunjung ke Tiongkok dari Jalan Sutra
Laut. Dalam perjalannya kembali ke Italia dengan naik kapal, ia pun bertolak dari
Quanzhou, Propinsi Fujian Tiongkok Tenggara dengan menyusuri jalan tersebut.

Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina

Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar
Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM.
Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara
pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari
masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah
utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan
perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan
ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun,
sera tsutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.

Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat
dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih,
di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada
Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap
musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra.
Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan.
Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong
sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra
menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai
instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis.
Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa
Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang
dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima
gaji dan hadiah sutra.

Perdagangan Sutra

Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga
antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi
pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja,
Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita
berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan
data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan 'amino-acid
racemization', mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa
Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE,
March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir
pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.

Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres,
Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus
Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya
silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat
Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka
silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu
dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian
Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke
berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus
Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga
sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300
denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan
bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi
Romawi.

Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan
Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan
Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak
penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang
paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan,
kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang,
sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang
yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan
suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.

Perdagangan Jalan Sutra

Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi
barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina
dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis),
jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat.
Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan
cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-
rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang

harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa
Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima
ratussyikal".

Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut
sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga
barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang
dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa
kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang
digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa
Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes'iah (Maz45.9), menjadi kata
Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa
para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM
dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah
manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai
sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian
yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi
Diocletian.

Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga
dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki
tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja,
yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang
produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa
Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi
adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan
berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di
Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang
ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.

Peta Jalan Sutra









Selasa, 22 Maret 2011

Rekayasa Jalan Raya tugas 1

  
TUGAS JALUR SUTRA

NAMA: CHOLIQ AUFAR NUGRAHA
NPM    : 0953010009


Jalur Sutra adalah nama yang diberikan seorang Jerman bernama von Richthofen pada Abad-18M, untuk jalur darat yang menghubungkan Cina dengan Eropa. Sekalipun baru dibuka resmi pada Abad-3SM, di masa Dinasti Han yang mulai mengirim utusan ke berbagai negara Asia Selatan dan Timur Tengah, namun Jalur Sutra sudah ada jauh sebelumnya. Jalur Sutra terdiri dari banyak jalur yang bercabang-cabang, dan digunakan untuk perdagangan berbagai komoditi selain sutra seperti gading, tanaman, emas. Secara garis besar terdapat tiga jalur, di utara, tengah dan selatan.
               Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati, melalui Urumqi dan Lembah Fergana. Jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrrannia, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia. Jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Di Cina, Jalur Sutra berujung di Changan atau Xian, ibukota kerajaan, ke arah barat melewati koridor Gansu, menuju Dun-huang di sisi Gurun Taklimakan. Jalur utara mulai dari Dun-huang dan Yu-men Guan, menyeberangi Gurun Gobi menuju Hami (Kumul), lalu menyisir kaki Tian-shan di bagian utara Taklimakan. Setelah oasis Turfan, menuju Urumqi dan Lembah Fergana untuk masuk Eropa hingga Laut Mati. Jalur ini bercabang di Turfan, ke oasis Kucha, menuju Kashgar di kaki Pamirs.



Jalur selatan mulai Dun-huang, melewati Yang Guan, menyusuri sisi selatan Taklimakan, melalui Miran, Hetian (Khotan) dan Shache (Yarkand), menuju utara lalu menuju Kashgar. Masih ada beberapa cabang jalur, salah satunya bercabang dari jalur selatan menuju sisi timur Gurun Taklimakan ke kota Loulan, lalu bergabung dengan jalur utara di Korla. Dari Kashgar yang simpang lalulintas Asia, ada jalur menyeberangi Pamirs menuju Samarkand dan menuju selatan ke Laut Kaspia; atau jalur ke selatan melewati Karakorum menuju India; dan sebuah jalur lain menuju Kuqa, menyeberangi Tian-shan, menuju Laut Kaspia melalui Tashkent

Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina
Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM. Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun, serat sutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.


Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih, di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra. Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan. Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis. Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima gaji dan hadiah sutra.

Perdagangan Sutra
Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja, Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan 'amino-acid racemization', mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE, March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.

               Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres, Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300 denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi Romawi.

                 Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan, kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang, sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.

Perdagangan Jalur Sutra

Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis), jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat. Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima ratus syikal".


Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes'iah (Maz45.9), menjadi kata Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi Diocletian.
             Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja, yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.

TUGAS REKAYASA JALAN RAYA 1, MINGGU KE-1


TUGAS MINGGU KE-1,
 REKAYASA JALAN RAYA 1

DONNY PRATAMA
 0953010050


PENGERTIAN JALUR SUTRA

Jalan Sutra adalah jalur jalan terpanjang yang membentang diantara dua benua,
menghubungkan Tiongkok dan dunia barat, yang zaman dulu dipakai sebagai
rute perdagangan melalui darat. Sejak lama, Tiongkok dikenal sebagai penghasil
kain sutra yang hasilnya diekspor ke barat, terutama melalui jalan ini, makanya
disebut "jalan sutra" (the silk road), sepanjang jalan yang melalui banyak negara ini,
terbentanglah peninggalan budaya dan sejarah yang sangat bernilai untuk dinikmati,
sambil membayangkan businessman jaman dulu mengangkut sutra dan komoditi
barang dagangan lainnya melewati 7.000 mil jalan di jalur sutera ini menuju Eropa.

Jalan Sutra adalah yang jalur paling terkenal sebagai rute perdagangan dari
peradaban Tiongkok kuno. Perdagangan sutra tumbuh di bawah Dinasti Han
(202 SM – AD 220) pada abad pertama dan kedua Masehi. Awalnya, sutra
dihasilkan Tiongkok kuno untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, di dalam
kekaisaran. Setelah produksi menjadi banyak, mereka mulai menjualnya ke arah
Barat, mengangkutnya menggunakan kereta kuda dan unta saat melewati gurun.
Dalam perjalanan, mereka sering diserang oleh suku-suku kecil di Asia Tengah
yang ingin merampas komoditi berharga yang dibawa pedagang. Akibatnya,
Dinasti Han memperluas pertahanan militernya lebih jauh ke Asia Tengah 135-
90 SM dalam rangka untuk melindungi para pedagang. Pemerintah Han mengirim
Jenderal Zhangqian (Chan Ch'ien) sebagai seorang utusan untuk membangun
hubungan yang baik dengan suku-suku ini, kemudian muncul ide untuk memperluas
perdagangan sutra, memasukkan suku-suku kecil ini sebagai bagian didalamnya,
membentuk aliansi dengan mereka. Karena ide ini, Jalan Sutra lahir. Rute tumbuh
dengan munculnya Kekaisaran Romawi karena pada awalnya memberikan sutra
Tiongkok pada pemerintahan Asia-Romawi sebagai hadiah.


Rute Jalur Sutra

Rute 7.000 mil yang membentang Tiongkok, Asia Tengah, India Utara, dan
Kekaisaran Parthia dan Romawi. Ia menghubungkan Lembah Sungai Kuning
dengan Laut Tengah dan melewati tempat-tempat di Tiongkok seperti kota Gansu
dan Sinkiang dan saat ini negara Iran, Irak dan Suriah.


Penduduk India barat laut yang tinggal di dekat Sungai Gangga memainkan peran
penting sebagai perantara dalam perdagangan sutra Tiongkok-Mediterania karena
pada awal abad ketiga Masehi, mereka mengerti bahwa sutra adalah produk yang
menguntungkan dari KekaisaranTiongkok. Hubungan perdagangan antara Tiongkok
dan India tumbuh lebih kuat dengan peningkatan ekspansi Han ke Asia Tengah.
Tiongkok juga melakukan perdagangan sutra mereka dengan orang-orang India
seperti batu mulia dan logam seperti batu giok, emas, dan perak, dan India juga
menjual sutra kepada kekaisaran Roma. Sutra adalah barang impor yang sangat
bernilai dan mahal harganya untuk Kekaisaran Romawi sejak perdagangan di India
dan Asia Tengah yang sangat dikendalikan oleh Kekaisaran Parthia.


Peninggalan Sepanjang Jalan Sutera di Tiongkok :

Prajurit Terakota di Xi'an

Prajurit terakota ditemukan di daerah Tong, 30 km dari Xi'an pada bulan Maret
1947, terletak di dekat makam Kaisar Qin Shihuang (210-209 BC). Prajurit patung ini
dibuat dengan tujuan untuk membantu Kaisar Qin di masa kehidupan selanjutnya
(oleh karenanya disebut "Prajurit Qin"). Material patung terakota ini berasal dari
Gunung Lishan. Menurut sejarah, konstruksi ini mulai dibangun pada 246 BC dan
melibatkan 700.000 pematung. Kaisar Qin secara khusus memerintahkan agar
wajah patung-patung ini tidak boleh ada yang sama.

Menara lonceng di Xi'an

Menara ini adalah lambang kota Xi'an. Ada legenda yang menyelimuti menara
lonceng ini. Pada dinasti Ming, ribuan orang tewas karena gempa bumi di Shaanxi.
Orang-orang mengatakan ada naga raksasa yang muncul di tengah kota itu dan
menimbulkan gempa tersebut. Saat mendengar mengenai hal ini, raja menyuruh
pandai besi membuat rantai sepanjang 300 meter untuk mengikat naga tersebut di
tengah kota. Dia juga memerintahkan 5.000 tukang yang terampil untuk membangun
menara disekeliling tempat naga itu terikat, untuk memenjarakan naga itu ke dalam
tanah sehingga tidak menimbulkan gempa lagi selamanya.

Kuil Kuda Putih di Luoyang

Kuil Kuda Putih terletak 12 km dari kota Luoyang, merupakan salah satu kuil
tertua di Tiongkok yang cantik dan megah. Menurut legenda, pada tahun 68 AD,
saat agama Buddha semakin surut di India, dua Bhikku India datang ke Luoyang
menunggang kuda putih, membawa kitab suci Buddha dari india datang ke tempat
ini. Para penganut Buddhis di tempat ini mendirikan kuil ini untuk mereka dan
memperdalam ajaran Buddha bersama kedua Bhikku tersebut. Dalam sejarah juga
tercatat bahwa tempat ini digunakan oleh Kaisar kedua Han, Lui Zhuang, untuk
menuntut ilmu. Dahulu lebih dari 1000 bhikku tinggal di tempat ini. Kuil ini juga
merupakan makam dari dua Bhikku India membawa kitab suci tersebut.

Mogao Grotto di Dunhuang

Mogao Grotto disebut juga Gua Seribu Buddha, di masa jalan sutera dikenal
sebagai "mutiara yang berkilau di jalur sutera", merupakan tempat persinggahan
yang sangat terkenal. Gua ini dipahat dari karang batu pasir Gunung Mingsha, yang
terbentang sepanjang 1600m dari selatan ke utara. Dibangun pada abad ke-14,
lukisan mural sepanjang 4500 meter persegi dan lebih dari 2000 patung berwarna
adalah merupakan salah satu warisan sejarah kebudayaan Buddhis yang masih
tersisa di dunia. Gua pertama kali dipahat pada tahun 366 AD. Idenya berasal dari
Bhikku Yue Zun yang bermimpi keberadaan 1000 Buddha emas saat ia pulang ke
rumah melewati wilayah ini, dan dia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya
menjadi nyata. Lebih dair 1000 tahun kemudian, 16 dinasti jatuh dan berdiri, namun
pekerjaan maha akbar ini terus dilanjutkan, melibatkan seniman lintas generasi.
Yang menakjubkan, konstuksi yang selesai dibangun pada zaman Dinasti yuan
sampai sekarang masih tegak berdiri, tahan terhadap erosi alam dan perang. Masih
ada 492 gua yang masih berdiri dan lebih dari 2000 patung dan 45.000 mural masih
ada disana.



Tugas Rekayasa Jalan Raya 1

NAMA : DWI ANGGARA RIZKY SAPUTRA
NPM   : 0753010058





JALUR SUTRA



Jalur Sutra (Hanzi tradisional: 絲綢之路; Hanzi yang Disederhanakan: 丝绸之路; pinyin: sī chóu zhī lù, bahasa Persia راه ابریشم Râh-e Abrisham) adalah sebuah jalur perdagangan melalui Asia Selatan yang dilalui oleh karavan dan kapal laut, dan menghubungkan Chang'an, Republik Rakyat Cina, dengan Antiokhia, Suriah, dan juga tempat lainnya. Pengaruhnya terbawa sampai ke Korea dan Jepang.
Pertukaran ini sangat penting tak hanya untuk pengembangan kebudayaan Cina, India dan Roma namun juga merupakan dasar dari dunia modern. Istilah 'jalur sutra' pertama kali digunakan oleh geografer Jerman Ferdinand von Richthofen pada abad ke-19 karena komoditas perdagangan dari Cina yang banyak berupa sutra.
Jalur Sutra benua membagi menjadi jalur utara dan selatan begitu dia meluas dari pusat perdagangan Cina Utara dan Cina Selatan, rute utara melewati Bulgar-Kypchak ke Eropa Timur dan Semenanjung Crimea, dan dari sana menuju ke Laut Hitam, Laut Marmara, dan Balkan ke Venezia; rute selatan melewati Turkestan-Khorasan menuju Mesopotamia dan Anatolia, dan kemudian ke Antiokia di Selatan Anatolia menuju ke Laut Tengah atau melalui Levant ke Mesir dan Afrika Utara.
Hubungan jalan rel yang hilang dalam Jalur Sutra diselesaikan pada 1992, ketika jalan rel internasional Almaty - Urumqi dibuka.


Jalan Sutra adalah jalur jalan terpanjang yang membentang diantara dua benua, menghubungkan Tiongkok dan dunia barat, yang zaman dulu dipakai sebagai rute perdagangan melalui darat.

Sejak lama, Tiongkok dikenal sebagai penghasil kain sutra yang hasilnya diekspor ke barat, terutama melalui jalan ini, makanya disebut "jalan sutra" (the silk road), sepanjang jalan yang melalui banyak negara ini, terbentanglah peninggalan budaya dan sejarah yang sangat bernilai untuk dinikmati, sambil membayangkanbusinessman jaman dulu mengangkut sutra dan komoditi barang dagangan lainnya melewati 7.000 mil jalan di jalur sutera ini menuju Eropa.

Sejarah & Budaya Jalan Sutera
 
Jalan Sutra adalah yang jalur paling terkenal sebagai rute perdagangan dari peradaban Tiongkok kuno. Perdagangan sutra tumbuh di bawah Dinasti Han (202 SM - AD 220) pada abad pertama dan kedua Masehi.

Awalnya, sutra dihasilkan Tiongkok kuno untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, di dalam kekaisaran. Setelah produksi menjadi banyak, mereka mulai menjualnya ke arah Barat, mengangkutnya menggunakan kereta kuda dan unta saat melewati gurun. Dalam perjalanan, mereka sering diserang oleh suku-suku kecil di Asia Tengah yang ingin merampas komoditi berharga yang dibawa pedagang. Akibatnya, Dinasti Han memperluas pertahanan militernya lebih jauh ke Asia Tengah 135-90 SM dalam rangka untuk melindungi para pedagang.

Pemerintah Han mengirim Jenderal Zhangqian (Chan Ch'ien) sebagai seorang utusan untuk membangun hubungan yang baik dengan suku-suku ini, kemudian muncul ide untuk memperluas perdagangan sutra, memasukkan suku-suku kecil ini sebagai bagian didalamnya, membentuk aliansi dengan mereka. Karena ide ini, Jalan Sutra lahir. Rute tumbuh dengan munculnya Kekaisaran Romawi karena pada awalnya memberikan sutra Tiongkok pada pemerintahan Asia-Romawi sebagai hadiah.

Jalan Sutra terbentang dari Tiongkok sampai Eropa

Melewati Dua Benua 


Rute 7.000 mil yang membentang Tiongkok, Asia Tengah, India Utara, dan Kekaisaran Parthia dan Romawi. Ia menghubungkan Lembah Sungai Kuning dengan Laut Tengah dan melewati tempat-tempat di Tiongkok seperti kota Gansu dan Sinkiang dan saat ini negara Iran, Irak dan Suriah.


Penduduk India barat laut yang tinggal di dekat Sungai Gangga memainkan peran penting sebagai perantara dalam perdagangan sutra Tiongkok-Mediterania karena pada awal abad ketiga Masehi, mereka mengerti bahwa sutra adalah produk yang menguntungkan dari KekaisaranTiongkok. Hubungan perdagangan antara Tiongkok dan India tumbuh lebih kuat dengan peningkatan ekspansi Han ke Asia Tengah.

Tiongkok juga melakukan perdagangan sutra mereka dengan orang-orang India seperti batu mulia dan logam seperti batu giok, emas, dan perak, dan India juga menjual sutra kepada kekaisaran Roma. Sutra adalah barang impor yang sangat bernilai dan mahal harganya untuk Kekaisaran Romawi sejak perdagangan di India dan Asia Tengah yang sangat dikendalikan oleh Kekaisaran Parthia.
  

Peninggalan Sepanjang Jalan Sutera di Tiongkok

Prajurit Terakota di Xi'an 
Prajurit Terakota: Wajahnya tidak ada yang sama!
Prajurit terakota ditemukan di daerah Tong, 30 km dari Xi'an pada bulan Maret 1947, terletak di dekat makam Kaisar Qin Shihuang (210-209 BC). Prajurit patung ini dibuat dengan tujuan untuk membantu Kaisar Qin di masa kehidupan selanjutnya (oleh karenanya disebut "Prajurit Qin"). Material patung terakota ini berasal dari Gunung Lishan.
Menurut sejarah, konstruksi ini mulai dibangun pada 246 BC dan melibatkan 700.000 pematung. Kaisar Qin secara khusus memerintahkan agar wajah patung-patung ini tidak boleh ada yang sama.  

Menara lonceng di Xi'an
Menara Lonceng Xi'an, menurut legenda, ada seekor naga dipenjara disini
Menara ini adalah lambang kota Xi'an. Ada legenda yang menyelimuti menara lonceng ini. Pada dinasti Ming, ribuan orang tewas karena gempa bumi di Shaanxi. Orang-orang mengatakan ada naga raksasa yang muncul di tengah kota itu dan menimbulkan gempa tersebut. Saat mendengar mengenai hal ini, raja menyuruh pandai besi membuat rantai sepanjang 300 meter untuk mengikat naga tersebut di tengah kota.
Dia juga memerintahkan 5.000 tukang yang terampil untuk membangun menara disekeliling tempat naga itu terikat, untuk memenjarakan naga itu ke dalam tanah sehingga tidak menimbulkan gempa lagi selamanya.

Kuil Kuda Putih di Luoyang
Kuil kuda putih di Luoyang
Kuil Kuda Putih terletak 12 km dari kota Luoyang, merupakan salah satu kuil tertua di Tiongkok yang cantik dan megah. Menurut legenda, pada tahun 68 AD, saat agama Buddha semakin surut di India, dua Bhikku India datang ke Luoyang menunggang kuda putih, membawa kitab suci Buddha dari india datang ke tempat ini.

Para penganut Buddhis di tempat ini mendirikan kuil ini untuk mereka dan memperdalam ajaran Buddha bersama kedua Bhikku tersebut. Dalam sejarah juga tercatat bahwa tempat ini digunakan oleh Kaisar kedua Han, Lui Zhuang, untuk menuntut ilmu. Dahulu lebih dari 1000 bhikku tinggal di tempat ini. Kuil ini juga merupakan makam dari dua Bhikku India membawa kitab suci tersebut.  

Mogao Grotto di Dunhuang 
Mogao Grotto (Kuil Seribu Buddha)


Mogao Grotto disebut juga Gua Seribu Buddha, di masa jalan sutera dikenal sebagai "mutiara yang berkilau di jalur sutera", merupakan tempat persinggahan yang sangat terkenal. Gua ini dipahat dari karang batu pasir Gunung Mingsha, yang terbentang sepanjang 1600m dari selatan ke utara. Dibangun pada abad ke-14, lukisan mural sepanjang 4500 meter persegi dan lebih dari 2000 patung berwarna adalah merupakan salah satu warisan sejarah kebudayaan Buddhis yang masih tersisa di dunia.

Gua pertama kali dipahat pada tahun 366 AD. Idenya berasal dari Bhikku Yue Zun yang bermimpi keberadaan 1000 Buddha emas saat ia pulang ke rumah melewati wilayah ini, dan dia memutuskan untuk mewujudkan mimpinya menjadi nyata. Lebih dair 1000 tahun kemudian, 16 dinasti jatuh dan berdiri, namun pekerjaan maha akbar ini terus dilanjutkan, melibatkan seniman lintas generasi. Yang menakjubkan, konstuksi yang selesai dibangun pada zaman Dinasti yuan sampai sekarang masih tegak berdiri, tahan terhadap erosi alam dan perang. Masih ada 492 gua yang masih berdiri dan lebih dari 2000 patung dan 45.000 mural masih ada disana.

thanks,

TUGAS REKAYASA JALAN RAYA 1, MINGGU KE-1

TUGAS REKAYASA JALAN RAYA 1

HENRRY JALADARA EKA ATMAJA

 0953010015


Jalan Sutra

Jalan Sutra yang dibuka oleh Tiongkok pada 2.000 tahun yang lalu adalah salah

satu jalur penting bagi penyebarluasan peradaban zaman kuno Tiongkok ke Barat,

sekaligus jembatan yang menghubungkan pertukaran ekonomi dan kebudayaan

Jalan Sutra adalah jalur penting untuk perdagangan Tiongkok dengan Asia

Tengah, Asia Selatan, Asia Barat Serta Eropa dan Afrika. Jalan Sutra yang lazim

disebut orang adalah jalur darat dari ibukota Dinasti Tang Tiongkok di timur ke

Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka oleh seorang jenderal bernama Zhang

Qian Dinasti Han. Kedua jalur Jalan Sutra itu disebut sebagai "Jalan Sutra Darat".

Menelusuri salah satu Jalan Surat itu, dapat melewati Afganistan, Uzbekistan,

Iran dan sampai Alexsandar Mesir, kalau mengambil jalan sutra lainnya bisa via

Pakistan, Kabul Afganistan, tiba di Teluk Persia.

Pada abad ke-2 sebelum masehi sampai abad ke-2 masehi, Jalan Sutra itu

mempunyai dua anak jalur yang masing-masing terletak di bagian utara dan selatan.

Di antaranya, jalur selatan bertolak dari Dunhuang, Propinsi Gansu Tiongkok Barat

Laut terus menuju ke barat menyusuri jalan di kaki Pegunungan Kunlun terus

sampai ke Xinjiang, Tiongkok Barat Laut dan bagian timur laut Afghanistan, Iran dan

Semenanjung Arab sebelum mencapai Roma, Italia. Sedangkan Jalan Sutra sektor

utara dimulai dari Benteng Yumen, Dunhuang terus ke barat menyusuri jalan di kaki

selatan Gunung Tianshan. Setelah melewati Gunung Chongling, Jalan Sutra Utara

itu memasuki wilayah Rusia di bagian Asia Tengah, kemudian jalan itu membelok ke

barat daya untuk bergabung dengan Jalan Sutra sektor selatan.

Masih ada dua jalan sutra yang jarang diketahui orang . Salah satu di antaranya

ialah "Jalan Sutra Barat Daya" yang bertolak dari Propinsi Sichuan, Tiongkok

Baratdaya terus ke Propinsi Yunnan dan mencapai bagian utara Myanmar setelah

menyeberang sebuah sungai, kemudian jalan sutra itu menuju bagian timur laut

India sebelum memasuki bagian barat laut India dengan menyusuri Sungai Gangga

India sebelum tiba di Dataran Tinggi Iran. Jalan Sutra itu bersejarah lebih lama

daripada Jalan Sutra Darat.

Selain jalan-jalan sutra di darat itu, masih terdapat satu lagi jalan sutra di atas

laut, yaitu dari Guangzhou, Tiongkok Selatan ke Selat Malaka, dan terus sampai ke

Sri Lanka, India dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai Jalan

Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika Timur,

dapat diketahui bahwa Jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa Dinasti Song

"Jalan Sutra Laut" menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama

peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong maju

pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra Laut juga

dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat.

Keadaan Geografis dan Rute-Rute Jalur Sutra

Seorang penjelajah bernama James Elroy Flecker menulis syair yang

berjudul "The Golden Journey" yang berisi saat iring-iringan panjang kafilah melintasi

dataran. Dengan langkah kaki nan berani dan gemerincing lonceng-lonceng

perak. Jangan cari yang lain kecuali kemuliaan dan keuntungan, jangan pula

cari pelipur lara di sumber-sumber air yang dikelilingi pepohonan palem. Syair ini

mengungkapkan jarak, pergerakan, juga berbagai hal eksotis. Karena belum pernah

bepergian ke arah timur lebih jauh dari Lebanon, James mungkin tidak menyadari

bahwa yang mengelilingi oasis-oasis Asia Tengah hanyalah poplar yang berganti

daun mengikuti musim dan palem subtropis (Wood, 2003: 4).

Sekitar tahun 1930-an, Mildred Cable dan Fransesca French, para misionaris,

mendeskripsikan keberangkatan mereka di waktu fajar pada saat menempuh Jalur

"Sinar mentari yang mulai meninggi menyentuh lekak-lekuk padang di

pegunungan Alpen di daerah Tibet dan memantulkan seuntai warna merah muda

di atas lereng-lereng bersalju itu. Sebagian besar rangkaian pegunungan itu masih

dalam cengkeraman kelamnya kegelapan yang menandai sisa-sisa penolakan

malam terhadap hari yang baru datang. Bintang fajar masih terlihat jelas, namun

dataran rendah di bawah begitu kelabu dalam sentuhan fajar. Tak lama kemudian,

terang pun menyingsing dengan cepat....

"Di kaki gunung terbentang lintasan jalan tua. Jalan tersebut lebar dan

sangant jelas tanda-tandanya. Entah sudah berapa banyak roda-roda berpaku tajam

dari gerobak-gerobak kafilah yang telah melaluinya. Jalur-jalur jalan itu berpisah dan

menyambung, kemudian menyebar lagi akibat aliran selokan kecil yag menandai

dekatnya keberadaan dengan permukaan sungai. Begitu banyak aneka ragam

penjelajah yang telah melewati jalan ini seperti sebuah aliran sungai kehidupan yang

tidak pernah berhenti mengalir. Inilah jalan utama yang hebat di Asia; jalan yang

menghubungkan Timur Jauh dengan Eropa nun jauh di sana (Wood, 2003: 3-4).

Walaupun sebenarnya kebanyakan sutra Cina diproduksi jauh di daerah

selatan, kebanyakan peta memperlihatkan Jalur Sutra dimulai dari daerah Xi'an di

Cina. Xi'an dulu di Cina dikenal dengan nama Chang'an. Kota yang berada di barat

laut propinsi Shaanxi ini pernah dua kali menjadi ibu kota di Cina. Pertama dari

tahun 206 SM sampai 25 M, pada masa dinasti Han (206 SM-220 M). Pada zaman

itu para kaisar Cina mulai memperlihatkan cukup minat pada daerah-daerah di luar

perbatasan sebelah barat kekuasaan mereka pada masa itu, Roma juga sama

berminatnya mendapatkan sutra Cina. Kemudian untuk kedua kalinya tahun 618-

907 M, saat dinasti Tang melihat peningkatan luar biasa dalam hubungan dengan

kerajaan-kerajaan di Asia Tengah serta keterkaitan agama Budha dengan India

melalui Jalur Sutra (Wood, 2003: 4).

Dari Xi'an, Jalur Sutra mengarah ke barat melewati Lanzhou dan kemudian

mengikuti jalur terluar sebelah barat Tembok Besar. Kemudian jalur tersebut

melintasi koridor Gansu dan terus ke arah Dunhuang. Kota oasis yang penting

tersebut pernah menjadi salah satu pusat agama Budha terbesar di Cina dari abad

ke- 4 sampai ke- 10. Pada masa itu, gua-gua yang tereletak di sisi sebelah timur

gurun Lop dipahat dan gua-gua dis sisi sebelah selatan gurun Gobi digali. Gua-gua

tersebut kemudian diisi dengan lukisan-lukisan tembok dan patung-patung cetakan

oleh para rahib Budha. Pada abad ke- 5 dan ke- 6, banyak peziarah agama Budha

yang terkenal seperti Xuanzang Agung, melewati Dunhuang dalam perjalanan

menuju India (Wood, 2003: 4-5). Menurut Adams (2006: 81) bahwa Pendeta Budha

Xuan Zhang meninggalkan India pada tahun 629 M. 16 tahun kemudian, ia kembali

dengan membawa naskah Budha yang diterjemahkan dalam bahasa Sansekerta.

Di India, para peziarah tersebut mengumpulkan teks-teks suci untuk

diterjemahkan dalam bahasa Cina. Situs ini seperti bagian pemandangan alam

gurun yang biasa saja. Daerah gersang dengan gumuk pasir yang terlihat

bergulung-gulung. Jajaran tebing panjang serta pahatan jalan masuk gua gelap

kecil ini hampir tidak terlihat di balik hutan kecil pepohonan poplar yang tinggi yang

tumbuh di tepi anak sungai kecil yang mengalir di sepanjang kaki tebing. Di tengah-

tengah tebing tersebut, jauh di atas pepohohonan, ada bangunan kuil bertingkat-

tingkat dengan rangka atap bergenting gelap melengkung jauh tinggi di atas pasir

(Wood, 2003: 5).

Tidak jauh dari Dunhuang, rute gurun itu tebagi. Rute utama yang berada

sebelah utara mengikuti lereng selatan pegunungan Tian Shan yang gelap dan

berpuncak salju. Jalan itu melintasi sebelah utara gurun Taklamakan dan melalui

kota-kota oasis, seperti Hami, Turfan, Korla, Kucha dan Aksu sebelum akhirnya

mencapai Kashgar. Rute ini lebih panjang dan tidak lurus jalannya. Namun, rute ini

juga tidak sesulit atau begitu melelahkan jika dibandingkan dengan rute sebelah

selatan. Rute utara ini menjadi jalur tersendiri di akhir abad ke- 4. Sementara itu,

rute sebelah selatan, melintasi oasis di kota Charklik, Cherchen, Niya, Keriya,

Khotan (Hetian) dan Yarkand, sebelum juga berakhir di Kashgar. Para rahib Budha

mungkin meninggalkan rute utama Jalur Sutra sebelah selatan di Yarkand untuk

kemudian mengarah ke pegunungan Karakoram menuju Leh dan Srinagar, lalu

masuk ke India. Rute sebelah selatan tersebut paling jelas digunakan di abad ke-2

dan ke- 4 (Wood, 2003: 6).

Ada rute kedua yang lebih jauh di sebelah utara lagi. Rute tersebut melintasi

bagian utara pegunungan Tian Shan dari Ham ke Almalik, Balasaghun, Tashkent,

Samarkand dan Bokhara. Para pedagang pengelana dan peziarah menghindari

daerah gurun bagian tengah dalam perjalanan mereka ke Kashgar yang terletak

di ujung sebelah barat gurun-gurun itu. Dari Kashgar, ada sejumlah rute yang

mengarah ke barat dan selatan. Para rahib Budha bisa jadi berjalan melalui Hindu

Kush, melintasi Tashkurgan dan menuju ke kerajaan-kerajaan Budha seperti

Gandhara dan Taxila. Sementara itu, para pedagang bisa jadi melintasi bagian utara

dataran tinggi Pamir mengarah ke Samarkand dan Bokhara, atau bagian selatan

Pamir ke Balkan dan kemudian ke Merv. Dari Merv, ada sejumlah rute perdagangan

yang mengarah ke daerah Mediterania melaui Baghdad ke Damaskus, Antiokia dan

Konstantinopel (Istanbul), dan Trebizond (Trabzon) di Laut Hitam (Wood, 2003: 6-7).

Selama dua milenium, barang-barang mewah diangkut melintasi rute-rute

sulit. Ruy Gonzalez de Clavijo, yang memimpin kedutaan untuk Timur di Samarkand

tahun 1403-1405, mendiskripsikan betapa 'seluruh barang-barang terbaik yang

datang ke Samarkand berasal dari Cina: terutama sutra, satin, wewangian musk,

batu delima, intan mutiara dan rubharb (sejenis kelembak). Orang Cina disebutkan

sebagai pekerja paling ahli di dunia....Cambalu, kota utama Cathay (sebutan untuk

Cina kuno), berjarak 6 bulan jauhnya dari Samarkand. Rhubarb1 begitu aneh

berbaur dengan intan dan mutiara. Rhubarb yang berasal dari Cina ini adalah bahan

obat yang paling berharga. Rhubarb dikenal sebagai obat pencahar (Wood, 2003:

Jalur Sutra yang mebentang diantara kota-kota oasis dan kota-kota besar

di daerah Mediterania adalah daerah tidak bertuan. Gurun Taklamakan, Lop dan

Gobi yang begitu luas dikelilingi rapatnya pegunungan. Ada pegunungan Kuruk

Tagh dan Tian Shan yang bersalju terbentang di sebelah utara. Ada Altun Shan dan

Kunlun Shan di sebelah selatan. Selain itu terdapat rangkaian dataran tinggi Pamir,

Hindu Kush dan Karakoram yang terbentang di sebelah barat. Seluruh rangkaian

pegunungan itu menciptakan batasan-batasan alam yang harus diperhitungkan

(Wood, 2003: 7-8).

Daerah luas yang terkurung pegunungan terletak sekitar 3.220 km sebelah

timur dataran tinggi Pamir. Meskipun demikian, jika dikaitkan dengan unta yang

dipakai sebagai alat transportasi utama 'di daerah stepa dan gurun Asia Tengah'

tempat Jalur Sutra berada, George Babcock Cressey mengungkapkan 'daripada

menyatakan ukurannya dengan jarak, daerah ini lebih baik dideskripsikan sebagai

enam bulan dari timur ke bara dan satu bulan atau lebih dari utara ke selatan (Wood,

Jalur sutra sebelah utara dan selatan mengikuti garis keberadaan hunian di

oasis yang berada dekat dengan rangkaian pegunungan yang melingkar tersebut.

Dari pegunungan, mengalir pasokan bagi oasis dalam bentuk dalam lelehan

air. Sampai dengan kedatangan para penjelajah di akhir abad ke- 19, beberapa

petualang telah sampai ke daerah tengah. Daerah tersebut terdiri dari serangkaian

gurun pasir dipisahkan oleh Sungai Tarim dan Khotan Darya. Gurun Gobi di timur

dan gurun Taklamakan di barat. Di tengah-tengahnya adalah Lop Nor, sebuah

danau kuno. Danau itu sekali waktu pernah mendukung suatu penempatan garnisun

yang berkembang pesat di Loulan. Sisa-sisa masa itu, seperti selusur tangga,

pegangan, palang pintu dan perabotan dari kayu yang diukir cantik, ditemukan

Sven Hedin (1899-1902) dan Aurel Stein (1906-1908). Berbagai temuan yang ada

tersebut jelas sekali mengindikasikan kekayaan dan kenyamanan yang pernah

dinikmati oleh penduduk setempat sebelum daerah itu mulai perlahan-lahan

ditinggalakan setelah abad ke- 3 (Wood, 2003: 8).



Senin, 21 Maret 2011

Tugas Rekayasa Jalan Raya 1

NAMA : FATHUR RIZQY DZULKARNAIN
NPM   : 0753010059

JALUR SUTRA

Jalur Sutra (The Great Silk Road) merupakan alur perdagangan para pedagang sejak abad ke-2  sebelum Masehi sampai dengan  abad 16 Masehi. Jalur yang sangat terkenal ini menghubungkan Cina dan Kerajaan Romawi sepanjang 7.000 kilometer lebih. Dinamakan jalur sutra karena barang utama yang diperdagangkan lewat jalur ini awalnya adalah sutra Cina. Namun seiring waktu barang yang diperdagangkan berkembang perhiasan, emas, besi, dan lainnya.
Rute utama jalur ini melalui bagian tengah Cina melalui pegunungan Thien San, Asia Tengah, Afghanistan, Iran, bagian pantai Mediterrania, Afrika Utara, menuju Eropa. Para pedagang melewati jalur ini dengan kereta kuda. Merekalah yang diyakini memberikan pengaruh penting bagi perkembangan kehidupan modern Asia dan Eropa di segala bidang.
Jalur ini begitu penting sebagai urat nadi ekonomi, budaya, bahkan politik pada Abad Pertengahan. Namun Kawasan Asia Tengah yang tak pernah sepi konflik-konflik senantiasa menghantui jalur sutra.
Kawasan tersebut merupakan bagian dari kerajaan Rusia dan Cina sampai menjelang abad 20. Selanjutnya negara-negara Asia Tengah yang meliputi Kyrgyzstan, Kazakhstan, Turkmenistan, Tajikistan, Uzbekistan, serta 10 negara sekitarnya sempat menjadi negara bagian dari Uni Sovyet selama lebih dari 70 tahun. Ketika Glasnost dan Perestroika berhembus dan mengakibatkan jatuhnya Sovyet pada awal 1990an, negara-negara bagian tersebut satu demi satu memerdekakan diri.
Asia Tengah yang sangat kaya dengan sumber daya alam (khususnya untuk energi seperti minyak, gas, uranium, batubara) membuat secara geostrategis posisi mereka menjadi penting.
Rusia dan Cina terus berupaya menjalin persahabatan dengan negaranegara baru merdeka itu demi mempertahankan pengaruh di sana. Negara Barat lain seperti Eropa dan Amerika Serikat pun tidak mau ketinggalan. Dengan berbagai alasan (seperti perang terhadap terorisme dan kejahatan lintas batas) AS dan EU membangun berbagai pangkalan militer di kawasan tersebut.
Karena masih muda dan sebagai akibat 70 tahun dibawah kekuasaan Sovyet, negara-negara Asia Tengah juga mengalami pergolakan. Tekanan penguasa atau pemerintah pada sendisendi kehidupan masyarakat masih sangat terasa. Perjalanan menuju demokrasi juga membuat berbagai gejolak sosial politik dan menimbulkan berbagai masalah ekonomi.
Tiap pemerintah terus mencari model dan strategi perekonomian yang tepat demi mensejahterakan masyarakatnya. Berdasarkan data World Bank, tingkat perekonomian Kazakhstan dan  Turkmenistan berada di bawah rata-rata dunia, Uzbekistan dan Kyrgyzstan masuk kelompok negara dengan tingkat pembangunan ekonomi rendah, sedangkan Tajikistan termasuk negara termiskin di dunia.
Namun secara umum, perekonomian seluruh negara Asia Tengah tumbuh rata-rata 8% pada 2006. Ini cukup fantastis dan menunjukkan arah yang tepat dari seluruh proses reformasi perekonomian kelima negara tersebut. Dengan total GDP US$ 100 milyar dan jumlah penduduk sekitar 90 juta orang, pasar Asia Tengah menjanjikan potensi keuntungan yang besar bagi pebisnis.
Kawasan tersebut juga mulai bebenah untuk saling mengintegrasikan diri demi memperlancar arus komunikasi dan transportasi. Terlihat dari semakin banyaknya infrastruktur berupa jalan, rel kereta, dan jembatan. Jalur penerbangan juga dibuka untuk saling menghubungkan kelima negara dan dengan negara bekas jajahan Uni Sovyet lain.
Kegiatan produksi lima negara Asia Tengah didominasi oleh pengolahan sumber daya mineral dan hasil pertanian. Dua kegiatan ini mendominasi ekspor dari kawasan. Produksi terbesar atas minyak, batubara, dan mineral lainnya dilakukan oleh Kazakhstan. Sedangkan industri ringan, bahan-bahan kimia dan proses mekanik banyak dilakukan Uzbekistan. Turkmenistan lebih banyak memproduksi gas alam dan pengolahan kapas, sedangkan Kyrgyzstan dan Tajikistan memfokuskan diri pada produksi tenaga listrik, penambangan emas, serta pengolahan aluminium. Untuk produk pertanian, kelima negara memiliki hasil olahan buah dan sayuran. Juga ada kekhususan untuk produk tertentu seperti bijibijian (Kazakhstan), serta kapas dan sutera (Uzbekistan, Tajikistan dan Kyrgyzstan).
Sebaliknya, mereka mengimpor dalam jumlah besar beberapa mesin dan peralatan untuk pengembangan industri dalam negeri mereka. Mereka juga banyak membutuhkan bahan-bahan kimia untuk penambangan dan pengolahan mineral. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, negara-negara Asia Tengah banyak mengimpor bahan makanan serta produk kayu dan kertas.
Sampai saat ini Asia Tengah banyak melakukan perdagangan dengan Negara yang secara geografis berdekatan seperti Rusia, Cina, dan Turki. Jerman, Korea Selatan, Switzerland, Uni Emirat Arab dan AS mulai mensuplai Asia Tengah terutama dengan komoditi pertanian dan mesin serta peralatan industri.Analisa yang dilakukan Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2006 menunjukkan bahwa terdapat potensi perdagangan yang sangat besar dengan negaranegara Asia Selatan dan Timur serta negara-negara Barat lainnya. Studi ADB juga mengungkapkan bahwa ada banyak hambatan perdagangan yang timbul di kawasan tersebut. Hambatan utama berasal dari kondisi geografis Asia Tengah yang tidak memiliki la utan (landlocked) sebagai jalur utama perdagangan.
Ini mengakibatkan mahal dan lamanya pengiriman barang karena harus melalui negara-negara transit yang tak sepenuhnya dapat dikontrol oleh Asia Tengah. Selain itu, tiap negara memiliki kebijakan perdagangan yang ketat atas banyak produk untuk melindungi pasar dalam negeri. Produk pertanian menghadapi tarif yang sangat tinggi di seluruh negara Asia Tengah. Tarif yang sering berubah juga merupakan masalah lain yang harus dihadapi para calon pebisnis di Uzbekistan,Kazakhstan, dan Tajikistan. Masalah berikutnya yang perlu diwaspadai ialah adanya kendala pendanaan melalui sektor perbankan. Kendala ini membuat transaksi perdagangan dengan negaranegara Asia Tengah seringkali terhambat.
Bagi Indonesia, Asia Tengah merupakan pasar non tradisional yang sangat prospektif. Ini mengingat ada kesamaan latar belakang agama Islam yang dianut penduduk Asia Tengah dan melimpahnya sumber daya alam. Sektor ekonomi yang dapat dikembangkan lebih lanjut antara lain tekstil, hasil pertanian dan perkebunan, informasi dan teknologi, otomotif, furnitur, makanan halal, real estate, perhotelan, pariwisata khususnya wisata sejarah, migas dan bahan mineral lainnya. Para pengusaha Indonesia yang bergerak pada bidang-bidang tersebut perlu mengantisipasi peluang pasar di kawasan ini.
Pemerintah Indonesia juga mulai melirik ke Asia Tengah sebagai alternative pasar di Asia. Pada kunjungan delegasi Pemerintah dan Kadin Uzbekistan bulan April lalu, Kepala Pusat Pengembangan Pasar Wilayah Asia Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) menyampaikan bahwa pasar Uzbekistan khususnya dan Asia Tengah umumnya belum banyak diketahui pengusaha Indonesia, padahal diakui potensi yang ada sangat besar. Kepala Badan Koordinasi Pasar Modal (BKPM) menyampaikan perlu peningkatan kerjasama ekonomi dan perdagangan Indonesia di kawasan tersebut.
Salah satu kendala yang juga dihadapi ialah tidak adanya transaksi langsung dengan pedagang di sana. Hampir semua transaksi perdagangan melalui pihak ketiga. Untuk itu Pemerintah RI dan negara-negara Asia Tengah perlu meningkatkan kerjasama untuk membuka jalur penerbangan langsung dan memfasilitasi perdagangan langsung ke kawasan tersebut.
Namun di pihak lain diperlukanjuga keberanian para pebisnis Indonesia untuk menjadi pelopor dalam menerobospasar tradisional di sana. Uzbekistan yang telah memiliki sarana dan prasaranalebih baik dapat menjadi pintu gerbang masuknya produk kita ke wilayah lainnya. Strategi untuk memasuki pasar di sana perlu disesuaikan dengan karakteristik tiap negara.
Mungkin banyak yang berkata: pasar Asia Tengah terlalu kecil, terlalu jauh, terlalu sulit untuk dimasuki, terlalu banyak hambatannya atau terlalu sedikit insentif pasarnya. Namun justru dibalik itu semualah terletak potensi keuntungan yang tinggi. Hukum besi ekonomi "risiko tinggi, profit besar'' masih tetap berlaku. Semua hanya perlu keberanian untuk memulainya.