Rabu, 23 Maret 2011

tugas rekayasa jalan raya 1, minggu ke-1

TUGAS MINNGU KE-1,
REKAYASA JALAN RAYA 1

NAMA : BAYU YURISIANTO
NPM : 0953010001



Sejarah Jalan Sutra


Jalan Sutra adalah salah satu jalur penting bagi penyebarluasan peradaban
zaman kuno Tiongkok ke Barat, sekaligus jembatan yang menghubungkan
pertukaran ekonomi dan kebudayaan Tiongkok-Barat.

Jalan Sutra yang lazim disebut orang adalah jalur darat dari Chang'an, ibukota
Dinasti Tang Tiongkok di timur ke Roma, ibukota Italia di barat. Jalur itu dibuka
oleh seorang jenderal bernama Zhang Qian. Di samping jalur utama, Jalan Sutra
itu mempunyai dua anak jalur yang masing-masing terletak di bagian utara dan
selatan. Di antaranya, jalur selatan bertolak dari Dunhuang, Propinsi Gansu
Tiongkok Barat Laut terus menuju ke barat menyusuri jalan di kaki Pegunungan
Kunlun terus sampai ke Xinjiang, Tiongkok Barat Laut dan bagian timur laut
Afghanistan, Iran dan Semenanjung Arab sebelum mencapai Roma, Italia.
Sedangkan Jalan Sutra sektor utara dimulai dari Benteng Yumen, Dunhuang
terus ke barat menyusuri jalan di kaki selatan Gunung Tianshan. Setelah
melewati Gunung Chongling, Jalan Sutra Utara itu memasuki wilayah Rusia
di bagian Asia Tengah, kemudian jalan itu membelok ke barat daya untuk
bergabung dengan Jalan Sutra sektor selatan. Kedau jalur Jalan Sutra itu
disebut sebagai "Jalan Sutra Darat".

Selain itu masih ada dua jalan sutra yang jarang diketahui orang. Salah satu di
antaranya ialah "Jalan Sutra Barat Daya" yang bertolak dari Propinsi Sichuan,
Tiongkok Baratdaya terus ke Propinsi Yunnan dan mencapai bagian utara
Myanmar setelah menyeberang sebuah sungai, kemudian jalan sutra itu menuju
bagian timur laut India sebelum memasuki bagian barat laut India dengan
menyusuri Sungai Gangga India sebelum tiba di Dataran Tinggi Iran. Jalan Sutra
itu bersejarah lebih lama daripada Jalan Sutra Darat. Tahun 1986, para arkeolog
menemukan petilasan Sanxingdui yang misterius di Guanghan, Propinsi
Sichuan. Di petilasan yang sejarahnya dapat dilacak sampai tiga ribu tahun
yang lalu, ditemukan sekelompok benda budaya yang berhubungan dengan
kebudayaan Asia Barat dan Yunani. Di antaranya terdapat sebuah tongkat emas
yang panjangnya 142 sentimer, sebatang "pohon dewa" dengan ketinggian 4
meter dan patung manusia tembaga, kepala tembaga dan maskot tembaga.
Para ahli berpendapat bahwa benda-benda budaya itu mungkin memasuki
Tiongkok dalam pertukaran kebudayaan antara Timur dan Barat. Apabila
pandangan itu benar, maka jalan sutra itu dapat dikatakan sudah terbentuk jauh
pada tiga ribu tahun yang lalu.

Selain jalan-jalan sutra di darat itu, masih terdapat satu lagi jalan sutra di atas
laut, yaitu dari Guangzhou, Tiongkok Selatan ke Selat Malaka, dan terus sampai
ke Sri Lanka, India dan pantai timur Afrika. Jalur di atas laut itu disebut sebagai
Jalan Sutra Laut. Menurut benda-benda budaya yang tergali di Somalia, Afrika
Timur, dapat diketahui bahwa Jalan Sutra Laut itu kira-kira terjadi pada masa
Dinasti Song Tiongkok.

"Jalan Sutra Laut" menghubungkan Tiongkok dengan negara-negara utama
peradaban zaman kuno dan sumber kebudayaan di dunia, dan mendorong
maju pertukaran ekonomi dan kebudayaan daerah tersebut. Maka Jalan Sutra
Laut juga dijuluki sebagai jalan dialog antara Timur dan Barat. Menurut catatan
sejarah, Marco Polo dari Italia justru berkunjung ke Tiongkok dari Jalan Sutra
Laut. Dalam perjalannya kembali ke Italia dengan naik kapal, ia pun bertolak dari
Quanzhou, Propinsi Fujian Tiongkok Tenggara dengan menyusuri jalan tersebut.

Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina

Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar
Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM.
Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara
pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari
masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah
utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan
perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan
ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun,
sera tsutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.

Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat
dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih,
di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada
Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap
musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra.
Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan.
Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong
sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra
menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai
instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis.
Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa
Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang
dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima
gaji dan hadiah sutra.

Perdagangan Sutra

Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga
antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi
pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes, Lembah Raja-raja,
Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita
berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan
data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan 'amino-acid
racemization', mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa
Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE,
March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir
pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.

Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres,
Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus
Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya
silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat
Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka
silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu
dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian
Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke
berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus
Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga
sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300
denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan
bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi
Romawi.

Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan
Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan
Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak
penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang
paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan,
kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang,
sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang
yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan
suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.

Perdagangan Jalan Sutra

Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi
barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina
dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis),
jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat.
Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan
cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-
rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang

harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa
Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima
ratussyikal".

Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut
sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga
barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang
dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa
kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang
digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa
Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes'iah (Maz45.9), menjadi kata
Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani menunjukkan bahwa
para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM
dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah
manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai
sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian
yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi
Diocletian.

Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga
dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki
tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja,
yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang
produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa
Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi
adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan
berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di
Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang
ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram.

Peta Jalan Sutra









Tidak ada komentar: